Loading...

 
Senin, 24 Agustus 2026 - 00:45:03 WIB                  


Mpox, LSL/MSM, dan Pentingnya Deteksi Laboratorium: Memahami Risiko Tanpa Menyalahkan


Tanggal Posting : Senin, 24 Agustus 2026 - 00:45:03 WIB
Dibaca : 13 kali


Mpox masih menjadi perhatian kesehatan masyarakat. Sejak wabah global tahun 2022, penyakit ini telah menyebar ke berbagai negara dan memperlihatkan pola penularan yang terus berkembang. Mpox merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Monkeypox virus (MPXV), yaitu virus DNA dari genus Orthopoxvirus dalam famili Poxviridae . Dalam pembahasan epidemiologinya, Lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki (LSL), atau men who have sex with men (MSM) disebut sebagai salah satu kelompok yang paling terdampak. Fakta tersebut harus dipahami secara tepat agar informasi kesehatan tidak berubah menjadi stigma, pelabelan, atau diskriminasi. Pada wabah global tahun 2022 yang terutama berkaitan dengan clade IIb, penularan banyak terjadi dalam jejaring seksual. Karena itu, gay, biseksual, dan laki-laki lain yang berhubungan seks dengan laki-laki, terutama mereka yang memiliki pasangan seksual baru dan/atau multipel, menjadi kelompok penting untuk dijangkau dalam upaya pencegahan dan deteksi dini. Namun, hal tersebut tidak berarti bahwa Mpox hanya menyerang LSL/MSM. Siapa pun dapat tertular apabila mengalami kontak erat atau paparan yang memungkinkan terjadinya penularan.

Bukan Identitas yang Menentukan Risiko
Hal mendasar yang perlu dipahami adalah bahwa risiko Mpox tidak ditentukan oleh identitas seseorang, tetapi oleh pola dan kemungkinan paparannya terhadap virus. Tidak semua LSL/MSM memiliki tingkat risiko yang sama. Risiko seorang individu dipengaruhi oleh riwayat kontak, kemungkinan paparan, pola hubungan seksual, serta apakah penularan sedang berlangsung dalam jaringan tempat ia berinteraksi. Sebaliknya, seseorang yang bukan LSL/MSM juga dapat tertular apabila mengalami kontak erat dengan orang yang terinfeksi. Oleh karena itu, pendekatan kesehatan masyarakat tidak seharusnya menyebut suatu identitas sebagai sumber penyakit.
Pesan yang lebih tepat adalah bahwa kelompok dengan kemungkinan paparan lebih tinggi perlu memperoleh informasi, akses pemeriksaan, dan langkah pencegahan yang sesuai. Pendekatan berbasis risiko seperti ini jauh lebih efektif dibandingkan pelabelan terhadap kelompok tertentu.

Mengapa LSL/MSM Menjadi Perhatian?
Virus tidak memilih seseorang berdasarkan orientasi seksual, pekerjaan, atau latar belakang sosial. Virus berpindah ketika terdapat kesempatan untuk melakukan kontak. Apabila penularan masuk ke dalam suatu jaringan dengan kontak erat dan berulang, peluang virus untuk berpindah dapat meningkat. Pada wabah Mpox clade IIb sejak tahun 2022, pola tersebut terlihat dalam jejaring seksual laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki. Data penelitian epidemiologi di Indonesia juga menunjukkan pola tersebut. Studi kasus Mpox Indonesia tahun 2023–2024 menemukan bahwa sebagian besar kasus terjadi pada laki-laki dan sekitar 59,8% tercatat sebagai MSM, sementara sebagian besar kasus terkonsentrasi di kawasan Jabodetabek. Studi lain di Jakarta juga menunjukkan dominasi kasus pada laki-laki dan keterlibatan jejaring MSM dalam penularan pada periode wabah tersebut.
Namun, epidemiologi Mpox dunia kini semakin beragam. Beredarnya clade Ia, Ib, dan IIb menunjukkan pola penularan yang berbeda. Di beberapa wilayah, penularan juga terjadi melalui kontak rumah tangga dan komunitas serta melibatkan perempuan dan anak-anak. Karena itu, LSL/MSM tetap penting dalam strategi pencegahan, khususnya dalam konteks clade Iib, tetapi Mpox tidak boleh dipersepsikan sebagai penyakit milik kelompok tertentu.

Pemeriksaan Laboratorium sebagai Kunci Konfirmasi
Mengenali gejala Mpox saja belum cukup. Ruam atau lesi dapat menyerupai penyakit lain sehingga pemeriksaan laboratorium menjadi kunci untuk mengonfirmasi dugaan kasus. Proses deteksi dimulai ketika individu atau komunitas mengenali gejala dan kemungkinan paparan. Individu kemudian datang ke fasilitas pelayanan kesehatan (Puskesmas, Rumah Sakit, Klinik ). Tenaga kesehatan melakukan penilaian klinis dan epidemiologis, mengidentifikasi suspek, serta mengambil spesimen yang sesuai (Usapan/swab pada bagian ruam, lesi yang berbentuk bintil berair, bernanah, atau keropeng yang sudah mengering, Swab Tenggorok). Spesimen selanjutnya dikirim ke laboratorium untuk diperiksa. Pemeriksaan molekuler, terutama PCR, berperan penting dalam memastikan infeksi Mpox. Karena itu, laboratorium bukan sekadar tempat pemeriksaan pada akhir proses. Laboratorium merupakan bagian penting dari sistem surveilans. Konfirmasi laboratorium memberikan dasar bagi investigasi epidemiologi, penelusuran kontak, edukasi, dan tindakan untuk mencegah penularan lebih lanjut.

Kota - Kota Besar Menjadi Perhatian Penyebaran Mpox
Pengalaman Jakarta dalam menemukan kasus memberikan pelajaran penting, tetapi kewaspadaan terhadap Mpox tidak seharusnya hanya terpusat pada ibu kota. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa kasus Mpox di Indonesia tidak hanya tercatat di DKI Jakarta, tetapi juga di Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, DI Yogyakarta, Kepulauan Riau, serta pada perkembangan terbaru tahun 2026 juga terdapat konfirmasi di Sumatera Selatan dan Kalimantan Timur. Hal ini menunjukkan perlunya penguatan kewaspadaan di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan kota besar lainnya. Bukan karena dapat langsung disimpulkan bahwa seluruh kota tersebut memiliki tingkat penularan yang sama, tetapi karena mobilitas penduduk, jejaring sosial yang luas, dan adanya kelompok dengan berbagai tingkat risiko dapat menciptakan peluang munculnya kasus.
Bahkan, rendahnya jumlah kasus yang dilaporkan di suatu kota tidak selalu berarti tidak ada penularan. Kasus mungkin belum dikenali, belum dicurigai, belum diperiksa, atau belum berhasil dikonfirmasi. Karena itu, yang perlu diperkuat adalah kemampuan deteksi. Semakin baik fasilitas pelayanan kesehatan mengenali suspek dan semakin mudah akses pemeriksaan laboratorium, semakin besar kemungkinan kasus dapat ditemukan lebih dini.

Komunitas sebagai Bagian dari Solusi
Komunitas LSL/MSM seharusnya tidak diposisikan sebagai objek stigma atau sasaran pengawasan semata. Justru komunitas dapat menjadi mitra strategis dalam pencegahan dan pemutusan rantai penularan.
Melalui jejaring sosial yang dimiliki, komunitas dapat membantu meningkatkan pengetahuan mengenai gejala Mpox, mendorong pemeriksaan dini, memberikan informasi mengenai akses layanan, serta mengurangi ketakutan untuk datang ke fasilitas kesehatan. Komunitas dapat menjadi penghubung antara individu yang memiliki kemungkinan paparan dengan sistem kesehatan. Semakin kuat keterhubungan tersebut, semakin besar peluang kasus ditemukan sebelum terjadi penularan lebih luas.

Tanpa Stigma, Deteksi Menjadi Lebih Kuat
Stigma dapat menjadi hambatan serius dalam pengendalian Mpox. Seseorang yang takut dihakimi mungkin menunda pemeriksaan atau bahkan menghindari fasilitas kesehatan. Akibatnya, kasus lebih sulit ditemukan dan kesempatan mencegah penularan dapat terlewatkan. Karena itu, LSL/MSM perlu diposisikan sebagai mitra dalam pencegahan, bukan sebagai kelompok yang disalahkan. Fakta bahwa kelompok ini menjadi salah satu populasi yang paling terdampak pada epidemiologi clade IIb seharusnya menjadi dasar untuk memperkuat komunikasi risiko, akses pemeriksaan, dan keterlibatan komunitas.
Tujuan kesehatan masyarakat bukan mencari siapa yang harus disalahkan. Tujuannya adalah mengenali risiko, menemukan kasus sedini mungkin, mengonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium, dan melibatkan komunitas untuk bersama-sama memutus rantai penularan Mpox di Jakarta maupun kota-kota besar lainnya di Indonesia tanpa stigma dan tanpa diskriminasi.


Referensi
1. World Health Organization. Mpox: Fact Sheet. 2024.
2. World Health Organization. Diagnostic Testing and Testing Strategies for Mpox: Interim Guidance. 2024.
3. World Health Organization. Surveillance, Case Investigation and Contact Tracing for Mpox: Interim Guidance. 2024.
4. World Health Organization & International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies. Interim Guidance on Strengthening Community Detection and Response During the Mpox Outbreak. 2025.
5. World Health Organization. Risk Communication and Community Engagement Readiness and Response Toolkit: Mpox. 2024.
6. World Health Organization. Mpox Outbreak Toolbox. 2025.
7. World Health Organization. Mpox: Recombinant Virus with Genomic Elements of Clades Ib and IIb – Global Situation. 2026.
8. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Situasi Terkini Penyakit Infeksi Emerging dan Potensial KLB/Wabah. 2026.
9. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Portal Infeksi Emerging: Mpox.
10. Molecular Epidemiological Surveillance of Monkeypox Virus in Indonesia from 2023 to 2024.

Penulis : Kambang Sariadji