Loading...

 
Rabu, 09 Oktober 2026 - 02:28:15 WIB                  


Ketika Dunia Menemukan Zika di Bali, Mengapa Indonesia Tidak?


Tanggal Posting : Rabu, 09 Oktober 2026 - 02:28:15 WIB
Dibaca : 56 kali


Pada 7 Agustus 2026, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat menerbitkan Travel Health Notice Level 2 untuk Zika di Indonesia. Peringatan itu secara khusus menyebut Bali: “Cases of Zika are being reported in returning travelers from Bali, Indonesia.” CDC meminta pelancong meningkatkan kewaspadaan terhadap gigitan nyamuk dan penularan seksual Zika, dengan perhatian khusus bagi ibu hamil dan mereka yang merencanakan kehamilan. (CDC)
Peringatan tersebut memunculkan pertanyaan yang menarik: jika negara lain menemukan Zika pada orang yang baru pulang dari Bali, mengapa Indonesia sendiri tidak menemukan kasusnya?
Pertanyaan ini menjadi lebih penting karena Zika sebenarnya bukan penyakit baru bagi Indonesia. Bukti ilmiah mengenai keberadaan virus ini telah muncul sejak puluhan tahun lalu. Indonesia bahkan pernah mengisolasi virus Zika secara langsung dari seorang pasien.

Sinyal pertama datang dari pelancong internasional
Sebelum CDC Amerika Serikat mengeluarkan travel alert, European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC) telah melaporkan sinyal epidemiologis terkait Zika dan Indonesia. Dalam Communicable Disease Threats Report minggu ke-16 tahun 2026, ECDC melaporkan 11 kasus Zika pada pelancong di Prancis yang terkait dengan perjalanan ke Indonesia selama periode Juli 2025 hingga Maret 2026. Sebagian besar kasus tersebut memiliki riwayat perjalanan ke Bali dan pulau-pulau di sekitarnya. ECDC juga mencatat adanya kasus yang dilaporkan Jerman dengan Indonesia sebagai tempat kemungkinan paparan. (ECDC)
Sinyal serupa juga muncul di Inggris. UK Health Security Agency (UKHSA) pada 14 Juli 2026 mengingatkan pelancong mengenai peningkatan infeksi terkait perjalanan, termasuk Zika, dan menerbitkan data sementara untuk Inggris, Wales, dan Irlandia Utara. (GOV.UK). WHO sendiri, dalam pembaruan epidemiologi Zika pada Mei 2026, menekankan pentingnya kewaspadaan berkelanjutan karena Zika masih dilaporkan di berbagai kawasan dunia, meskipun jumlah kasusnya jauh lebih rendah dibandingkan saat epidemi global satu dekade lalu. WHO menyusun pembaruan tersebut berdasarkan data surveilans global dan publikasi ilmiah. (Organisasi Kesehatan Dunia)

Padahal, Zika bukan penyakit baru di Indonesia
Sejarah Zika di Indonesia sebenarnya cukup panjang. Pada 1981, penelitian berjudul ,“Zika virus, a cause of fever in Central Java, Indonesia” melaporkan bukti infeksi Zika pada pasien demam akut di Klaten, Jawa Tengah. Penelitian tersebut dilakukan terhadap pasien yang dirawat pada 1977 dan 1978. Para peneliti memeriksa serum fase akut dan fase konvalesen untuk mencari bukti infeksi alphavirus dan flavivirus. Dari 30 pasien yang menunjukkan bukti infeksi flavivirus, tujuh pasien memiliki peningkatan empat kali lipat titer antibodi pada serum berpasangan. Temuan tersebut menjadi salah satu bukti awal bahwa Zika telah beredar di Indonesia. (ScienceDirect). Namun, pada masa itu, bukti yang tersedia masih terutama berbasis pemeriksaan serologis. Tantangan utama pemeriksaan Zika memang terletak pada kemungkinan reaksi silang dengan flavivirus lain, khususnya dengue. Bukti yang lebih kuat muncul beberapa dekade kemudian.

Dari 103 pasien suspek dengue, satu ternyata Zika
Pada 2014–2015 terjadi wabah dengue di Jambi. Dalam situasi tersebut, peneliti dari Eijkman Institute for Molecular Biology bersama sejumlah mitra memeriksa 103 pasien yang secara klinis didiagnosis dengue, tetapi hasil pemeriksaan dengue mereka negatif. Sampel tersebut kemudian diperiksa untuk kemungkinan infeksi virus lain menggunakan pemeriksaan molekuler alphavirus dan flavivirus, sambil dilakukan upaya isolasi virus menggunakan sel Vero.
Hasilnya, satu dari 103 sampel, ditemukan positif flavivirus dan kemudian dikonfirmasi sebagai Zika virus. Virus tersebut berhasil diisolasi, dikonfirmasi menggunakan Zika virus-specific real-time RT-PCR, dan dianalisis secara genetik. (CDC)
Peneliti kemudian menyimpulkan bahwa isolasi virus dari pasien yang tidak memiliki riwayat perjalanan ke luar negeri mengonfirmasi bahwa Zika virus telah bersirkulasi di Indonesia. Mereka juga mengingatkan bahwa infeksi Zika yang menyerupai dengue ringan kemungkinan menjadi bagian dari kasus demam akut yang tidak terdiagnosis. (CDC). Di sinilah persoalan surveilans menjadi penting.

Ketika “tidak ada kasus” belum tentu berarti “tidak ada virus”
Indonesia sebenarnya pernah mengembangkan surveilans sentinel dengue yang kemudian diperluas untuk memasukkan arbovirus lain, termasuk chikungunya dan Zika. Evaluasi sistem surveilans di Indonesia juga mencatat bahwa Sistem Surveilans Sentinel Dengue dikembangkan untuk memantau distribusi dengue dan kemudian diperluas untuk surveilans chikungunya dan Zika. (Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia). Bahkan dalam laporan kinerja Kementerian Kesehatan semester pertama 2025 masih tercantum kegiatan penyusunan Petunjuk Teknis Sistem Surveilans Sentinel Dengue–Chikungunya–Zika (S3D). (PPID Kemkes). Artinya, kebutuhan untuk membangun sistem deteksi Zika sebenarnya telah disadari.
Namun, pertanyaan yang lebih penting adalah: seberapa aktif sistem tersebut berjalan, berapa banyak spesimen yang diperiksa, dan apakah kasus demam akut atau suspek dengue negatif secara konsisten diperiksa lebih lanjut untuk kemungkinan Zika? Data publik yang tersedia menunjukkan bahwa pada surveilans penyakit infeksi emerging berbasis sindrom dan laboratorium, suspek Zika masih dapat ditemukan, meskipun dalam contoh laporan 2024 hingga minggu ke-3 tahun 2025, satu suspek Zika yang diperiksa memberikan hasil negatif. (Infeksi Emerging)
Hal ini menunjukkan bahwa masalahnya tidak sesederhana “Indonesia sama sekali tidak melakukan pemeriksaan”. Namun, data publik yang tersedia juga belum memberikan gambaran yang cukup lengkap mengenai cakupan pemeriksaan Zika secara nasional dan berkelanjutan. Karena itu, pernyataan bahwa tidak ditemukannya kasus berarti tidak ada penularan harus dibaca dengan hati-hati. Dalam epidemiologi, ketiadaan temuan sangat bergantung pada seberapa keras kita mencarinya.
Kasus Jambi memberikan contoh yang sangat jelas. Jika pemeriksaan berhenti setelah pasien dinyatakan negatif dengue, maka mungkin hanya akan tercatat sebagai demam akut dengan penyebab yang tidak diketahui. Zika ditemukan justru karena pemeriksaan dilanjutkan.

Saatnya memperkuat kemampuan menemukan
Peringatan CDC tidak otomatis berarti Bali sedang mengalami wabah Zika. CDC sendiri menyatakan adanya kasus pada pelancong yang kembali dari Bali, bukan menyatakan adanya KLB yang telah dikonfirmasi oleh Indonesia. (CDC). Namun, sinyal tersebut seharusnya menjadi pengingat penting. Indonesia telah memiliki bukti serologis Zika sejak penelitian di Jawa Tengah. Indonesia juga pernah mengisolasi dan mengonfirmasi Zika virus dari pasien di Jambi. Sistem surveilans sentinel untuk dengue dan arbovirus lain pun pernah dikembangkan dan hingga 2025 masih menjadi bagian dari agenda penguatan surveilans.
Pertanyaan kita sekarang seharusnya bukan sekadar, “Apakah Indonesia memiliki kasus Zika?” “Apakah sistem kita cukup aktif dan cukup sensitif untuk menemukannya?” Ketika pelancong internasional membawa pulang sinyal epidemiologis dari Bali, sementara bukti ilmiah menunjukkan bahwa Zika pernah dan kemungkinan masih dapat bersirkulasi di Indonesia, penguatan surveilans menjadi lebih dari sekadar kewaspadaan. Ia menjadi cara untuk membedakan dua kemungkinan yang sangat berbeda: memang tidak ada kasus, atau kasusnya ada tetapi belum berhasil kita temukan.



Daftar Referensi


  1. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2026). Travel Health Notice Level 2: Zika in Indonesia. Centers for Disease Control and Prevention.
  2. European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC). (2026). Communicable Disease Threats Report: Week 16, 2026. European Centre for Disease Prevention and Control.
  3. UK Health Security Agency (UKHSA). (2026). Travel health update: Infectious disease risks for travelers (England, Wales, and Northern Ireland). GOV.UK.
  4. World Health Organization (WHO). (2026). Zika Virus Epidemiological Update - May 2026. World Health Organization.
  5. Olson, J. G., Ksiazek, T. G., Suhandiman, & Triwibowo. (1981). Zika virus, a cause of fever in Central Java, Indonesia. ScienceDirect / Transactions of the Royal Society of Tropical Medicine and Hygiene.
  6. Perkasa, A., Yudhaputri, F., Haryanto, S., Hayati, R. F., Ma'roef, C. N., Antonjaya, U., Yohan, B., Myint, K. S. A., Ledermann, J. P., Powers, A. M., & Sasmono, R. T. (2016). Isolation of Zika Virus from Hospitalized Patients in Jambi, Indonesia, 2014–2015. Emerging Infectious Diseases, CDC.
  7. Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia. Evaluasi Sistem Surveilans Sentinel Dengue dan Arbovirus di Indonesia.
  8. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Laporan Kinerja Kementerian Kesehatan Semester I Tahun 2025: Penyusunan Petunjuk Teknis Sistem Surveilans Sentinel Dengue–Chikungunya–Zika (S3D). PPID Kementerian Kesehatan RI.
  9. Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemkes RI. (2025). Laporan Lintas Sektor Infeksi Emerging: Pemantauan Kasus Suspek Arbovirus dan Zika (Minggu ke-3 Tahun 2025). Infeksi Emerging Kemenkes RI.




Penulis : Kambang , Rulina, Josef, Shoofi, Balqis