Loading...

 
Jumat, 09 Oktober 2026 - 07:29:35 WIB                  


Diagnosis Influenza A: Peran Pemeriksaan Laboratorium dalam Deteksi Infeksi


Tanggal Posting : Jumat, 09 Oktober 2026 - 07:29:35 WIB
Dibaca : 60 kali


Influenza merupakan penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang disebabkan oleh virus influenza dari famili Orthomyxoviridae. Pada manusia, penyakit influenza terutama disebabkan oleh virus Influenza A dan B. Influenza A, atau lazim dikenal sebagai flu babi, memiliki perhatian khusus karena mampu menginfeksi manusia dan hewan, karena mengalami perubahan genetik, serta berpotensi menimbulkan wabah musiman maupun pandemi. Virus ini diklasifikasikan berdasarkan dua protein utama, yaitu hemagglutinin (HA) dan neuraminidase (NA), misalnya subtipe A (H1N1) dan A (H3N2). Pemeriksaan laboratorium berperan dalam memastikan diagnosis, membedakan influenza dari infeksi saluran pernapasan lainnya, mendukung pengendalian infeksi, serta membantu surveilens dalam mendeteksi munculnya strain virus baru.

Karakteristik Influenza A
Virus Influenza A merupakan virus RNA beruntai tunggal dengan genom bersegmen. Protein HA berperan dalam perlekatan virus ke reseptor sel epitel saluran napas, sedangkan protein NA membantu pelepasan partikel virus baru dari sel yang terinfeksi. Kombinasi antigen HA dan NA digunakan untuk menentukan subtipe virus, seperti H1N1 atau H3N2.

Penularan Influenza terutama terjadi melalui droplet dan partikel saluran napas ketika seseorang yang terinfeksi batuk, bersin, atau berbicara. Virus juga dapat berpindah melalui tangan atau permukaan yang terkontaminasi, kemudian masuk melalui hidung, mulut, atau mata. Gejala klinis influenza A dapat meliputi:
1) Demam atau rasa menggigil.
2) Batuk, umumnya batuk kering.
3) Nyeri tenggorokan.
4) Pilek atau hidung tersumbat.
5) Nyeri otot dan sakit kepala.
6) Kelelahan atau malaise.
7) Pada sebagian pasien, terutama anak-anak, dapat terjadi mual, muntah, atau diare.

Gejala tersebut tidak selalu dapat membedakan Influenza A dari infeksi virus pernapasan lain. Oleh sebab itu, diagnosis klinis perlu dipertimbangkan bersama kondisi epidemiologis dan dikonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan molekuler seperti reverse transcription polymerase chain reaction (RT-PCR) umumnya lebih diutamakan karena memiliki sensitivitas dan spesifisitas tinggi.

Pemeriksaan Influenza A di Balai Besar Laboratorium Biologi Kesehatan
Balai Besar Laboratorium Biologi Kesehatan menyediakan layanan pemeriksaan influenza dengan metode RT-PCR. Keunggulan RT-PCR meliputi:
a) Sensitivitas dan spesifisitas tinggi.
b) Dapat membedakan Influenza A dan Influenza B.
c) Beberapa metode dapat mengidentifikasi subtipe Influenza A.
d) Dapat dilakukan dalam format multiplex untuk mendeteksi Influenza bersama virus pernapasan lain, termasuk SARS-CoV-2.

Spesimen yang digunakan untuk pemeriksaan influenza berasal dari saluran pernapasan. Jenis spesimen yang dapat digunakan antara lain:
1) Usap nasofaring.
2) Usap hidung.
3) Usap tenggorok.
4) Kombinasi usap hidung dan tenggorok.
5) Aspirat atau bilasan hidung.
6) Aspirat endotrakeal atau cairan bronchoalveolar lavage pada pasien kritis tertentu.

Usap nasofaring merupakan salah satu spesimen saluran napas atas yang paling baik untuk pemeriksaan influenza. Spesimen sebaiknya dikumpulkan sedini mungkin, idealnya dalam 3–4 hari pertama sejak timbulnya gejala, karena jumlah virus biasanya lebih tinggi pada fase awal penyakit. Pemeriksaan molekuler masih dapat mendeteksi RNA virus lebih lama dibandingkan pemeriksaan antigen cepat.

Pengambilan spesimen harus dilakukan oleh petugas terlatih menggunakan alat pelindung diri yang sesuai. Spesimen ditempatkan dalam media transportasi virus dan dikirim sesuai ketentuan laboratorium. Penanganan spesimen harus memperhatikan prinsip biosafety untuk mencegah pajanan terhadap petugas dan kontaminasi silang.

Hasil positif menunjukkan adanya RNA influenza dalam spesimen yang diperiksa. Sementara hasil negatif perlu diinterpretasikan bersama waktu pengambilan spesimen, kualitas spesimen, lokasi infeksi, jumlah virus, dan kondisi klinis pasien. Hasil negatif tidak selalu menyingkirkan risiko infeksi Influenza apabila spesimen diambil terlambat, teknik pengambilan kurang baik, atau infeksi berada di saluran napas bawah. Hal ini menunjukkan bahwa mutu pemeriksaan laboratorium Influenza tidak hanya bergantung pada alat, tetapi juga pada seluruh proses pra-analitik sejak pengambilan hingga pelaporan hasil.

REFERENSI

Centers for Disease Control and Prevention. Influenza: CDC Yellow Book 2026. NCBI Bookshelf. Tersedia di: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK620922/
Centers for Disease Control and Prevention. Information on Rapid Molecular Assays, RT-PCR, and Other Molecular Assays for Diagnosis of Influenza Virus Infection. Tersedia di: https://www.cdc.gov/flu/hcp/testing-methods/molecular-assays.html
Centers for Disease Control and Prevention. Information on Rapid Diagnostic Testing for Influenza. Tersedia di: https://www.cdc.gov/flu/hcp/testing-methods/rapidclin.html
Centers for Disease Control and Prevention. Influenza Signs and Symptoms and the Role of Laboratory Diagnostics. Tersedia di: https://archive.cdc.gov/www_cdc_gov/flu/professionals/diagnosis/labrolesprocedures.htm
Sembiring, dkk. Peranan Gejala Klinis dan Pemeriksaan Darah Tepi dalam Diagnosis Dini Influenza pada Pasien dengan Gejala Influenza Like Illness. Jurnal Penyakit Dalam Indonesia. Tersedia di: https://scholarhub.ui.ac.id/jpdi/vol1/iss2/4/
World Health Organization. Manual for the Laboratory Diagnosis and Virological Surveillance of Influenza. Tersedia di: https://www.who.int/publications/i/item/manual-for-the-laboratory-diagnosis-and-virological-surveillance-of-influenza
World Health Organization. Information for the Molecular Detection of Influenza Viruses. Tersedia di: https://cdn.who.int/media/docs/default-source/influenza/molecular-detention-of-influenza-viruses/protocols_influenza_virus_detection_2024.pdf

Penulis: Tommy Meivita Simanjuntak